Kamis, 11 Juli 2013

CERITA BRAHMANA BHUJANGGA WAISNAWA

     Terkait dengan Bujangga Waisnawa sampai masuk ke Bali, sejarahnya tentu harus dicari lagi. Ternyata, walaupun tidak khusus juga terdapat di buku Leluhur Orang Bali karangan I Nyoman Singgih Wikarman tentang perjalanan Maharsi Markandya ke Bali.Perjalanan Beliau ke Bali pertama menuju Gunung Agung. Di sanalah maharsi dan murid-muridnya membuka hutan untuk pertanian. Tapi sayang, murid-muridnya kena penyakit, banyak di antaranya meninggal. Akhirnya Beliau kembali ke Pasramannya di Gunung Raung. Di sanalah beryoga, ingin tahu apa sebabnya hingga bencana menimpa para pengikutnya. Hingga mendapat pawisik bahwa terjadinya bencana itu adalah karena Beliau tidak melaksanakan upacara keagamaan sebelum membuka hutan itu.

      Setelah mendapat pawisik, Maharsi Markandya pergi kembali ke Gunung Tahlangkir (Tohlangkir) Bali. Kali ini mengajak serta pengikut sebanyak 400 orang. Sebelum mengambil pekerjaan, terlebih dahulu menyelenggarakan upacara ritual, dengan menanam Panca dhatu di lereng Gunung Agung itu. Demikianlah akhirnya semua pengikutnya selamat. Maka, itu wilayah ini lalu dinamai Besuki, kemudian menjadi Besakih, yang artinya selamat. Tempat maharsi menanam Panca dhatu, lalu menjadi pura, yang diberi nama Pura Besakih.

        Entah berapa lamanya Maharsi Markandya berada di sana, lalu Beliau pergi menuju arah Barat dan sampai di suatu daerah yang datar dan luas, di sanalah lagi merabas hutan. Wilayah yang datar dan luas ini lalu diberi nama Puwakan. Kemungkinan dari kata Puwakan ini lalu menjadi Swakan dan terakhir menjadi subak.Di tempat ini Rsi Markandya menanam jenis-jenis bahan pangan. Semuanya bisa tumbuh dan menghasilkan dengan baik.

          Oleh karenanya tempat itu juga disebut Sarwada yang artinya serba ada. Keadaan ini bisa terjadi karena kehendak Sang Yogi. Kehendak bahasa Balinya kahyun atau adnyana. Dari kata kahyun menjadi kayu. Kayu bahasa Sansekertanya taru, kemungkinan menjadi Taro. Taro adalah nama wilayah ini kemudian. Di wilayah Taro ini Sang Yogi mendirikan sebuah pura, sebagai kenangan terhadap pasraman Beliau di Gunung Raung. Puranya sampai sekarang disebut Gunung Raung. Di sebuah bukit tempatnya beryoga juga didirikan sebuah pura yang kemudian dinamai Pura Payogan, yang letaknya di Campuan Ubud. Pura ini juga disebut Pura Gunung Lebah.

            Berikutnya Rsi Markandya pergi ke Barat dari Payogan itu, dan sampai di sana juga membangun sebuah pura yang diberi nama Pura Murwa dan wilayahnya diberi nama Pahyangan, yang sekarang menjadi Payangan.

          Orang-orang Aga, murid Sang Yogi, menetap di desa-desa yang dilalui. Mereka bercampur dan membaur dengan orang-orang Bali Asli. Mereka mengajarkan cara bercocok tanam yang baik, menyelenggarakan yajna seperti yang diajarkan oleh Rsi Markandya. Dengan demikian Agama Hindu pun dapat diterima dengan baik oleh orang-orang Bali Asli itu.
Sebagai Rohaniawan (Pandita), orang Aga dan Bali Mula, adalah keturunan Maharesi Markandya sendiri yang disebut Warga Bujangga Waisnawa.

          Dalam zaman raja-raja berikutnya, Bujangga Waisnawa ini selalu menjadi Purohita mendampingi raja, ada yang berkedudukan sebagai Senapati Kuturan, seperti Mpu Gawaksa dinobatkan menjadi Senapati Kuturan oleh Sang Ratu Adnyanadewi tahun 1016 Masehi, sebagai pengganti Mpu Rajakerta (Mpu Kuturan). Ratu ini pula yang memberikan kewenangan kepada Sang Guru Bujangga Waisnawa untuk melakukan pacaruan Walisumpah ke atas. Karena sang pendeta mampu membersihkan segala noda di bumi ini. Lalu Mpu Atuk yang masih keturunan Rsi Markandya, di masa pemerintahan Sri Sakala Indukirana (1098 M), dinobatkan sebagai Senapati Kuturan dari Keturunan Bujangga Waisnawa.

        Pada masa pemerintahan Suradhipa (1115-1119 M), yang dinobatkan sebagai Senapati Kuturan dari keturunan Sang Rsi Markandya adalah Mpu Ceken, kemudian diganti oleh Mpu Jagathita. Kemudian ketika pemerintahan Raghajaya (1077 M), yang diangkat sebagai Senapati Kuturan yakni Mpu Andonaamenang, dari keluarga Bujangga Waisnawa. Demikianlah seterusnya.

          Ketika pemerintahan raja-raja selanjutnya, selalu saja ada seorang Purohita Raja atau Dalem yang diambil dari keluarga Bujangga Waisnawa, keturunan Maharsi Markandya. Sampai terakhir masa pemerintahan Dalem Batur Enggong di Bali. Ketika itu yang menjadi Bagawanta Dalem, mewakili sekte Waisnawa, adalah dari Bujangga Waisnawa pula dari Griha Takmung. Namun sayang dan mungkin sudah kehendak Dewata Agung, terjadi kesalahan Sang Guru Bujangga, di mana Beliau selaku Acarya (Guru) telah mengawini sisyanya sendiri yakni Putri Dalem yaitu Dewa Ayu Laksmi. Atas kesalahan ini sang Guru Bujangga Waisnawa akan dihukum bunuh. Tapi Beliau segera menghilang dan kemudian menetap di wilayah Tabanan.

      Semenjak kejadian inilah Dalem tidak lagi memakai Bhagawanta dari Bujangga Waisnawa keturunan Sang Rsi Markandya. Setelah kedatangan Danghyang Nirartha di Bali, posisi Bhagawanta diambil alih Brahmana Siwa dan Budha. Selesailah sudah peranan Bujangga Waisnawa sebagai pendamping raja di Bali. Bahkan setelah strukturisasi masyarakat Bali ke dalam sistem wangsa oleh Danghyang Nirartha atas restu Dalem, keluarga Bujangga Waisnawa tidak dimasukkan lagi sebagai Warga Brahmana.

10 komentar:

  1. Apakah mungkin Masih bisa di kembalikan seperti dulu

    BalasHapus
  2. Kalau disetarakan dgn struktur masyarakat Bali yg masih ada sekarang,waisnawa masuk yg mana?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau seperti yang diatas masuk brahmna

      Hapus
    2. Msuk dlm kasta brahmana setara ida bagus nike

      Hapus
    3. Brahmana bhujangga waisnawa dipolitisasi dijatuhkan harus bangkit griya2 brahmana bhujangga waisnawa di bali harus berani bersuara termasuk mengganti nama keturunan kembali menjadi ida bagus sesuai leluhur brahmana bhujangga waisnawa ida bagus angker ,ida bagus canggle dan banyak lagi,karena jika tidak seperti itu berarti tidak mengakui diri atau merendah diri sebagai sudra di bawah brahmana dan akan terus diinjak2 dikatakan senggu ngaku2 brahmana,dan ditelantarkan oleh brahmana siwa dan bali pun tidak akan tentram karena sejatinya tri sadaka harus seimbang dan difungsikan bukan pedanda saja

      Hapus
  3. Siapa Dang Hyang Nirartha sebenarnya. Knapa beliau juga menyebarkan ajaran wetu telu di lombok, yg sekarang ada di daerah bayan lombok utara?

    Secara beliau adl Dang Hyang atau Maharsi.

    Kok bisa seorang Dang Hyang atau Maharsi menyebarkan ajaran selain Hindu,padahal yang kita tau, seorang Maharsi sangat taat dengan weda.


    BalasHapus
  4. Dumogi bhujangga waisnawa tetep ajeg🙏

    BalasHapus
  5. Dalam Upakara/upacara besar di Bali, setingkat Upacara Eka Dasa Rudra (setiap 100 Tahun sekali), harus dipuput oleh Brahmana Tri Sedaka ; Brahmana Siwa Sidhanta, Brahmana Buddha Gunadharma/Keling, dan Brahmana Waisnawa keturunan Danghyang Markandeya, bila tidak demikian upacara besar/tingkatan Uttama upakaranya dapat dikatakan belum sempurna, karena mantra/doa "Walik Sumpah" hanya sempurna dimiliki oleh Brahmana Waisnawa, itulah sebabnya Brahmana Wainawa keturunan Danghyang Markandeya ini sejak dahulu kala jaman Raja Bali Kuno sampai Dalem Gelgel Waturenggong memakai pendeta raja dari Brahmana Waisnawa keturunan Danghyang Markandeya. Pada saat itu Danghyang Nirarta sudah tiba di Bali dan menjadi Guru Nabe Dalem Waturenggong menggantikan kedudukan Brahmana Waisnawa di Griya Takmung sebagai Raja Kerta atau Bhagawantaraja/Purohitoraja.

    BalasHapus
  6. Maaf bertanya, kenapa keturunannya dalam cerita diatas gelarnya menjadi Mpu, bukan Rai. Terimakasih

    BalasHapus