BAB
I
PENDAHULUAN
1.1 Latar
Belakang
Tema
yang penulis angkat pada makalah ini adalah mengenai sistem koloid. Koloid adalah suatu suspensi partikel-partikel kecil yang mempunyai ukuran tertentu
dalam suatu medium kontinyu. Sistem koloid merupakan suatu bentuk campuran (sistem
dispersi)
dua atau lebih zat yang bersifat homogen namun memiliki ukuran partikel
terdispersi yang cukup besar (1
- 100 nm),
sehingga terkena efek
Tyndall.
Bersifat homogen berarti partikel terdispersi tidak terpengaruh oleh gaya gravitasi atau gaya lain yang dikenakan kepadanya; sehingga
tidak terjadi pengendapan, misalnya. Sifat homogen ini juga dimiliki olehlarutan, namun tidak dimiliki oleh campuran biasa.
Ketertarikan
penulis mengenai sistem koloid ini mengundang keingintahuan yang lebih besar
pada diri penulis sehingga menarik diri penulis untuk mencari
sebanyak-banyaknya data yang akurat mengenai sistem koloid ini.
1.2
Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dari karya tulis ini antara lain :
1.
Apa yang di maksud dengan system koloid?
2.
Apa saja jenis-jenis koloid?
3.
Bagaimana sifat-sifat koloid itu sendiri?
4.
Bagaimana cara membuat sistem koloid?
5.
Bagaimana koloid dalam kehidupan sehari-hari?
1.3
Tujuan
Adapun tujuan dari pembuatan karya tulis ini antara lain adalah :
1.
Untuk mengetahui yang dimaksud dengan system
koloid tersebut.
2.
Untuk mengetahui jenis-jenis dari koloid
tersebut.
3.
Untuk mengetahui sifat-sifat yang dimiliki oleh
koloid itu sendiri .
4.
Untuk mengetahui cara cara membuat system koloid.
5.
Untuk mengetahui koloid dalam kehidupan
sehari-hari.
1.4 Manfaat
Adapun manfaat dari pembuatan karya tulis ini adalah sebagai suatu media
informasi bagi siswa untuk mengetahui yang dimaksud dengan koloid, jenis-jenis,
sifat-sifatnya dan cara membuat system koloid serta mengetahui koloid dalam
kehidupan sehari-hari.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Sistem Koloid
2.1.1 Pengertian Sistem Koloid
Sistem koloid merupakan suatu bentuk campuran (sistem
dispersi)
dua atau lebih zat yang bersifat homogen namun memiliki ukuran partikel
terdispersi yang cukup besar (1
- 100 nm),
sehingga terkena efek
Tyndall.
Bersifat homogen berarti partikel terdispersi tidak terpengaruh oleh gaya gravitasi atau gaya lain yang dikenakan
kepadanya; sehingga tidak terjadi pengendapan, misalnya. Sifat homogen ini juga
dimiliki olehlarutan, namun tidak dimiliki oleh campuran biasa (suspensi).
Keadaan koloid
bukan ciri dari zat tertentu karena semua zat, baik padat, cair, maupun gas,
dapat dibuat dalam keadaan koloid.Sistem koloid sangat berkaitan erat dengan
hidup dan kehidupan kita sehari-hari. Cairan tubuh, seperti darah adalah sistem
koloid, bahan makanan seperti susu, keju, nasi, dan roti adalah sistem koloid.
Cat, berbagai jenis obat, bahan kosmetik, tanah pertanian juga merupakan sistem
koloid.Karena sistem koloid sangat berpengaruh bagi kehidupan sehari-hari, kita
harus mempelajarinya lebih mendalam agar kita dapat menggunakannya dengan benar
dan dapat bermanfaat untuk diri kita.
Koloid adalah
suatu campuran “metastabil” (seolah olah stabil, tapi akan memisah setelah
waktu tertentu). Koloid berbeda dengan larutan.
Di dalam larutan koloid secara umum,
ada 2 zat sebagai berikut :
·
Zat terdispersi, yakni zat yang
terlarut di dalam larutan koloid
·
Zat pendispersi, yakni zat pelarut
di dalam larutan koloid
Berdasarkan
fase terdispersi maupun fase pendispersi suatu koloid dibagi sebagai berikut :
Fase Terdispersi
|
Pendispersi
|
Nama koloid
|
Contoh
|
Gas
|
Gas
|
Bukan koloid, karena gas bercampur secara homogen
|
|
Gas
|
Cair
|
Busa
|
Buih, sabun, ombak, krim kocok
|
Gas
|
Padat
|
Busa padat
|
Batu apung, kasur busa
|
Cair
|
Gas
|
Aerosol cair
|
Obat semprot, kabut, hair spray di udara
|
Cair
|
Cair
|
Emulsi
|
Air santan, air susu, mayones
|
Cair
|
Padat
|
Gel
|
Mentega, agar-agar
|
Padat
|
Gas
|
Aerosol padat
|
Debu, gas knalpot, asap
|
Padat
|
Cair
|
Sol
|
Cat, tinta
|
Padat
|
Padat
|
Sol Padat
|
Tanah, kaca, lumpur
|
2.1.2 Sejarah Koloid
Pada tahun 1861, Thomas
Graham, seorang ahli kimia bangsa Inggris melakukan percobaan untuk menguji
perbedaan kemampuan aliran zat terlarut dengan menggunakan kantong perkamen,
air, kristal gula, lem perekat, dan tepung kanji. Mula – mula gula, lem
perekat, dan tepung kanji masing – masing dilarutkan ke dalam air. Kemudian
larutannya dimasukkan ke dalam kantong perkamen, ditutup rapat dan direndam
dalam air.
Dari percobaan tersebut ternyata
molekul gula memiliki kemampuan untuk merembes keluar menembus pori – pori
perkamen sehingga keluar dari kantong. Akan tetapi partikel kanji tidak dapat
keluar dari kantong. Zat lain yang dicobakan oleh Thomas Graham adalah zat
perekat dengan percobaan yang sama. Ternyata zat perekat tersebut sifatnya sama
dengan sifat kanji, yaitu tidak mampu menembus membran perkamen.
Berdasarkan hasil percobaan
tersebut, Graham memberikan gagasan sebagai berikut.
1.
Molekul gula dapat lolos dari membran perkamen, sedangkan
kanji dan perekat tidak dapat lolos dari membran perkamen. Hal ini dimungkinkan
karena ada perbedaan diameter molekul antara molekul kanji dengan molekul gula.
Molekul kanji mempunyai diameter lebih besar dari diameter molekul gula.
2.
Larutan gula yang berasal dari kristal gula dan semacamnya
disebut larutan yang berdifusi cepat atau kristaloid,
sedangkan zat perekat, kanji, dan susu, atau semacamnya yang bersifat lekat dan
kental disebut koloid.
Pada perkembangan
selanjutnya, penggolongan zat menjadi koloid dan kristaloid tidak dapat
dipertahankan karena banyak koloid dapat dikristalkan dan kristaloid dapat
dibuat koloid.
Pada tahun 1907, Ostwald
mengemukakan istilah system terdispersi
dan medium pendispersi. System koloid
terdiri dari fase terdispersi dengan ukuran tertentu dalam medium pendispersi.
Zat yang didispersikan disebut fase terdispersi, sedangkan medium yang
digunakan untuk mendispersikan disebut medium
pendispersi. Analogi dalam larutan, fase terdispersi adalah zat terlarut
sedangkan medium pendispersi adalah zat pelarut. Pada contoh campuran susu dan
air, fase terdispersi adalah partikel susu dan medium pendispersinya adalah
air.
Seorang kimiawan Jerman
bernama Richard Zsigmondy, pada tahun 1912 mendesain mikroskop ultra untuk mengamati
partikel – partikel terlarut termasuk partikel koloid. Dari pengamatannya
tersebut ternyata partikel koloid mempunyai diameter molekul 10
cm - 10
cm. Mengapa
harus menggunakan mikroskop ultra? Karena hanya partikel yang ukuran
diameternya lebih besar dari 10
cm yang dapat
dilihat dengan mikroskop biasa.
No. Larutan Koloid Suspensi
1.
Ukuran partikel < 10
cm Ukuran partikel antara Ukuran partikel
>10
cm 10
- 10
cm
2.
Homogen Antara homogen dan Heterogen
heterogen
3.
Satu fase Dua fase Dua fase
4.
Jernih Keruh Keruh
5. Tidak memisah jika Tidak memisah jika
Memisah jika
didiamkan didiamkan didiamkan
6. Tidak dapat
disaring Tidak dapat disaring Dapat disaring dengan saringan biasa dengan saringan biasa dengan
saringan biasa
7. Tidak dapat
disaring Dapat disaring dengan Dapat disaring
dengan membran perkamen membran perkamen dengan membrane
perkamen
8. Berbentuk
ion, molekul Molekul besar, partikel
Partikel besar
kecil
Tabel 7. 1 Perbedaan
antara Larutan, Koloid, dan Suspensi
Dalam kehidupan sehari –
hari, kita sering menemukan zat yang tergolong larutan, koloid, dan suspensi.
Contoh
larutan : larutan gula, larutan
garam dapur, larutan cuka, larutan
alcohol,
dan udara.
Contoh
koloid : susu, santan, busa
sabun, salad krim, margarine, lateks dan
asap.
Contoh
suspense : air sungai yang keruh,
tanah liat dengan air, pasir dengan
air, dan air kapur.
Bentuk-bentuk partikel koloid, yaitu:
1.
Bulatan : misalnya virus, silika.
2.
Batang : misalnya virus.
3.
Piringan : misalnya globulin dalam
darah.
4.
Serat : misalnya selulosa
2.2
Jenis-Jenis Koloid
Seperti yang sudah diketahui
bahwa wujud ( fase ) benda terdiri dari padat, cair dan gas. Tiap wujud
tersebut dapat menjadi medium pendispersi ataupun fase terdispersi, kecuali
untuk gas. Gas sebagai fase perdispensi pada medium pendispersi tidak membentuk
koloid. Gas dengan gas merupakan campuran yang homogen. Berdasarkan hal
tersebut, sistem koloid dapat dibagi menjadi beberapa jenis, seperti yang
tercantum dalam table 7.2.
No. Fase Medium Fase Nama Koloid Contoh
Terdispersi Pendispersi Koloid
1. Gas Cair Cair Busa
/ buih Busa sabun
2. Gas Padat Padat Busa padat
Karet busa
3. Cair Gas
Gas
Aerosol cair Embun
4. Cair Cair Cair Emulsi Susu
5. Cair Padat Padat Emulsi padat
Mentega
6. Padat Gas Gas Aerosol padat
Asap
7. Padat Cair Cair Sol
Cat
8. Padat Padat Padat Sol padat Paduan logam
Table 7.2 Beberapa Jenis Dispersi Koloid
a.
Emulsi : sistem koloid yang fase terdispersi berupa zat cair
dan medium pendispersinya berupa zat cair. Bila medium pendispersinya berupa
zat padat dikenal dengan emulsi padat.
b.
Sol : sistem koloid
yang fase terdispersinya berupa zat padat dan medium pendispersinya berupa zat
cair. Bila medium pendispersinya berupa zat padat, disebut sol padat.
c.
Busa : sistem koloid
yang fase terdispersinya berupa gas dan medium pendispersiya berupa zat cair. Bila
medium pendispersinya berupa zat padat disebut busa padat.
d.
Aerosol: sistem koloid yang medium pendispersinya berwujud
gas, sedangkan fase terdispersinya berupa zat cair atau zat padat.
2.3
Sifat-Sifat Koloid
Koloid memiliki beberapa macam sifat, yaitu:
a)
Efek Tyndall
Efek Tyndall ialah gejala
penghamburan berkas sinar (cahaya) oleh partikel-partikel koloid. Hal ini disebabkan karena ukuran molekul koloid
yang cukup besar. Efek tyndall ini ditemukan oleh John
Tyndall (1820-1893), seorang ahli fisika Inggris. Oleh karena itu
sifat itu disebut efek tyndall.
Efek tyndall adalah efek
yang terjadi jika suatu larutan terkena sinar. Pada saat larutan sejati
disinari dengan cahaya, maka larutan tersebut tidak akan menghamburkan cahaya,
sedangkan pada sistem koloid, cahaya akan dihamburkan. hal itu terjadi karena
partikel-partikel koloid mempunyai partikel-partikel yang relatif besar untuk
dapat menghamburkan sinar tersebut. Sebaliknya, pada larutan sejati,
partikel-partikelnya relatif kecil sehingga hamburan yang terjadi hanya sedikit
dan sangat sulit diamati.
Contoh: sinar
matahari yang dihamburkan partikel koloid di angkasa, hingga langit berwarna
biru pada siang hari dan jingga pada sore hari ; debu dalam ruangan akan
terlihat jika ada sinar masuk melalui celah.
b) Gerak
Brown
Gerak Brown ialah gerakan
partikel-partikel koloid yang senantiasa bergerak lurus tapi tidak menentu
(gerak acak/tidak beraturan). Jika kita amati koloid dibawah mikroskop ultra,
maka kita akan melihat bahwa partikel-partikel tersebut akan bergerak membentuk
zigzag. Pergerakan zigzag ini dinamakan gerak Brown. Partikel-partikel suatu
zat senantiasa bergerak. Gerakan tersebut dapat bersifat acak seperti pada zat
cair dan gas( dinamakan gerak brown), sedangkan pada zat padat hanya beroszillasi
di tempat ( tidak termasuk gerak brown ). Untuk koloid dengan medium
pendispersi zat cair atau gas, pergerakan partikel-partikel akan menghasilkan
tumbukan dengan partikel-partikel koloid itu sendiri. Tumbukan tersebut
berlangsung dari segala arah. Oleh karena ukuran partikel cukup kecil, maka
tumbukan yang terjadi cenderung tidak seimbang. Sehingga terdapat suatu
resultan tumbukan yang menyebabkan perubahan arah gerak partikel sehingga
terjadi gerak zigzag atau gerak Brown.
Semakin kecil ukuran
partikel koloid, semakin cepat gerak Brown yang terjadi. Demikian pula, semakin
besar ukuran partikel koloid, semakin lambat gerak Brown yang terjadi. Hal ini
menjelaskan mengapa gerak Brown sulit diamati dalam larutan dan tidak ditemukan
dalam campuran heterogen zat cair dengan zat padat (suspensi). Gerak Brown juga
dipengaruhi oleh suhu. Semakin tinggi suhu sistem koloid, maka semakin
besar energi kinetik yang dimiliki partikel-partikel medium pendispersinya.
Akibatnya, gerak Brown dari partikel-partikel fase terdispersinya semakin
cepat. Demikian pula sebaliknya, semakin rendah suhu sistem koloid, maka gerak
Brown semakin lambat.
c)
Adsorpsi
Adsorpsi ialah peristiwa
penyerapan partikel atau ion atau senyawa lain pada permukaan partikel koloid
yang disebabkan oleh luasnya permukaan partikel. (Catatan : Adsorpsi harus
dibedakan dengan absorpsi yang artinya penyerapan yang terjadi di dalam suatu
partikel).
Contoh: koloid antara obat diare dan cairan dalam usus yang akan menyerap
kuman penyebab diare.
Koloid Fe(OH)3
akan mengadsorbsi ion H+ sehingga menjadi bermuatan +. Adanya muatan
senama maka koloid Fe(OH), akan tolak-menolak sesamanya sehingga
partikel-partikel koloid tidak akan saling menggerombol.
Koloid As2S3
akan mengadsorbsi ion OH- dalam larutan sehingga akan bermuatan -
dan tolak-menolak dengan sesamanya, maka koloid As2S3
tidak akan menggerombol. Muatan Koloid ditentukan oleh muatan ion yang terserap
permukaan koloid.
d) Elektroforesis
Elektroforesis
adalah gerakan partikel koloid karena pengaruh medan listrik. Karena partikel koloid mempunyai
muatan maka dapat bergerak dalam medan listrik. Jika ke dalam koloid dimasukkan
arus searah melalui elektroda, maka koloid bermuatan positif akan bergerak
menuju elektroda negatif dan sesampai di elektroda negatif akan terjadi
penetralan muatan dan koloid akan menggumpal (koagulasi). Contoh: cerobong pabrik yang
dipasangi lempeng logam yang bermuatan listrik dengan tujuan untuk
menggumpalkan debunya.
e)
Koagulasi Koloid
Koagulasi
koloid adalah penggumpalan koloid karena elektrolit yang muatannya
berlawanan.Contoh: kotoran pada air yang digumpalkan oleh tawas sehingga air
menjadi jernih.
Faktor-faktor
yang menyebabkan koagulasi:
·
Perubahan suhu.
·
Pengadukan.
·
Penambahan ion dengan muatan besar
(contoh: tawas).
·
Pencampuran koloid positif dan
koloid negatif.
Koloid akan
mengalami koagulasi dengan cara:
1.
Mekanik
Cara mekanik dilakukan dengan pemanasan, pendinginan
atau pengadukan cepat
2.
Kimia
Dengan penambahan elektrolit (asam, basa, atau garam).
Contoh: susu + sirup masam
—> menggumpal
Lumpur + tawas —> menggumpal
Dengan
mencampurkan 2 macam koloid dengan muatan yang berlawanan.
Contoh : Fe(OH)3
yang bermuatan positif akan menggumpal jika dicampur As2S3
yang bermuatan negatif.
f)
Koloid Liofil dan Koloid Liofob
Koloid Liofil :
koloid yang mengadsorbsi cairan, sehingga terbentuk selubung di sekeliling
koloid.
Contoh: agar-agar.
Koloid Liofob :
kolid yang tidak mengadsorbsi cairan. Agar muatan koloid stabil, cairan
pendispersi harus bebas dari elektrolit dengan cara dialisis, yakni pemurnian
medium pendispersi dari elektrolit.
g)
Emulasi
Emulasi adalah
kolid cairan dalam medium cair. Agar larutan kolid stabil, ke dalam koloid
biasanya ditambahkan emulsifier, yaitu zat penyetabil agar koloid stabil. Contoh: susu merupakan emulsi lemak
di dalam air dengan kasein sebagai emulsifier.
Banyak koloid
yang harus dipertahankan dalam bentuk koloid untuk penggunaannya. Contoh: es krim, tinta, cat.
Untuk itu
digunakan koloid lain yang dapat membentuk lapisan di sekeliling koloid
tersebut. Koloid lain ini disebut koloid pelindung. Contoh: gelatin pada sol Fe(OH)3.
Untuk koloid
yang berupa emulsi dapat digunakan emulgator yaitu zat yang dapat tertarik pada
kedua cairan yang membentuk emulsi. Contoh: sabun deterjen sebagai emulgator dari emulsi
minyak dan air.
h)
Pemurnian Koloid
Untuk
memurnikan koloid yaitu menghilangkan ion-ion yang mengganggu kestabilan koloid,
dapat dilakukan cara dialisis. Koloid yang akan dimurnikan dimasukkan ke
kantong yang terbuat dari selaput semipermeabel yaitu selaput yang hanya dapat
dilewati partikel ion saja dan tidak dapat dilewati molekul koloid. Contoh: kertas perkamen, selopan atau
kolodion.
Kantong koloid
dimasukkan ke dalam bejana yang berisi air mengalir, maka ion-ion dalam koloid
akan keluar dari kantong dan keluar dari bejana dan koloid tertinggal dalam
kantong. Proses dialisis akan di percepat jika di dalam bejana diberikan arus
listrik yang disebut elektro dialisis.
Proses
pemisahan kotoran hasil metabolisme dari darah oleh ginjal termasuk proses
dialisis. Maka apabila seseorang menderita gagal ginjal, orang tersebut harus
menjalani “cuci darah” dengan mesin dialisator di rumah sakit. Koloid juga
dapat dimurnikan dengan penyaring ultra.
i)
Dialisis
Dialisis adalah proses penyaringan koloid
dengan menggunakan kertas perkamen atau membran yang diletakan di dalam air
yang mengalir
j) Diffusi dan Filtrasi
Partikel koloid lebih sulit berdifusi bila dibandingkan
dengan larutan sejati. Hal ini disebabkan ukuran partikel koloid lebih besar
dibandingkan dengan partikel larutan sejati. Selain itu ukuran partikel koloid
juga menyebabkan partikel koloid tidak dapat disaring dengan kertas biasa,
tetapi harus dengan penyaring ultra.
2.4 Cara Membuat Sistem
Koloid
·
Cara
Kondensasi
Pembuatan
sistem koloid dengan cara kondensasi dilakukan dengan cara penggumpalan
partikel yang sangat kecil. Penggumpalan partikel ini dapat dilakukan dengan
cara sebagai berikut:
ü Reaksi
Pengendapan
ü Pembuatan
sistem koloid dengan cara ini dilakukan dengan mencampurkan larutan elektrolit
sehingga menghasilkan endapan.
Contoh: AgNO3
+ NaCl —> AgCl(s) + NaNO3
ü Reaksi
Hidrolisis
Reaksi hidrolisis adalah reaksi suatu zat dengan air.
Sistem koloid dapat dibuat dengan mereaksikan suatu zat dengan air.
Contoh: AlCl3
+H2O —> Al(OH)3(s) + HCl
ü Reaksi Redoks
Pembuatan koloid dapat terbentuk dari hasil reaksi
redoks. Contoh: pada larutan emas
Reaksi: AuCl3 +
HCOH —> Au + HCl + HCOOH
ü Reaksi
Pergeseran
Contoh: pembuatan sol As2S3
dengan cara mengalirkan gas H2S ke dalam laruatn H3AsO3
encer pada suhu tertentu.
Reaksi: 2 H3AsO3 + 3 H2S
—> 6 H2O + As2S3
ü Reaksi
Pergantian Pelarut
Contoh: pembuatan gel kalsium asetat dengan cara
menambahkan alkohol 96% ke dalam larutan kalsium asetat jenuh.
·
Cara Dispersi
Pembuatan
sistem koloid dengan cara dispersi dilakukan dengan memperkecil partikel
suspensi yang terlalu besar menjadi partikel koloid, pemecahan
partikel-partikel kasar menjadi koloid.
ü Ukuran partikel
suspensi diperkecil dengan cara penggilingan zat padat, dengan menghaluskan
butiran besar kemudian diaduk dalam medium pendispersi.
Contoh: Gumpalan tawas digiling, dicampurkan ke dalam
air akan membentuk koloid dengan kotoran air.
Membuat tinta dengan menghaluskan karbon pada
penggiling koloid kemudian didispersikan dalam air.
Membuat sol belerang dengan menghaluskan belerang
bersama gula (1:1) pada penggiling koloid, kemudian dilarutkan dalam air, gula
akan larut dan belerang menjadi sol.
ü Cara Peptisasi
Pembuatan koloid dengan cara peptisasi adalah
pembuatan koloid dengan menambahkan ion sejenis, sehingga partikel endapan akan
dipecah.
Contoh: sol Fe(OH)3 dengan
menambahkan FeCl3.
sol
NiS dengan menambahkan H2S.
karet dipeptisasi oleh bensin.
agar-agar dipeptisasi oleh air.
endapan Al(OH)3 dipeptisasi oleh AlCl3.
ü Cara Busur
Bredia/Bredig
Pembuatan koloid dengan cara busur Bredia/Bredig
dilakukan dengan mencelupkan 2 kawat logam (elektroda) yang dialiri listrik ke
dalam air, sehingga kawat logam akan membentuk partikel koloid berupa debu di
dalam air.
ü Cara Ultrasonik
Yaitu penghancuran butiran besar dengan ultrasonik
(frekuensi > 20.000 Hz) campuran
homogen.
Campuran homogen disebut larutan,
contoh: larutan gula dalam air. Campuran heterogen dapat dibedakan menjadi 2
macam, yaitu: Sistem koloid termasuk dalam bentuk campuran.
Campuran terbagi menjadi 2, yaitu:
1. Suspensi,
contoh: pasir dalam air.
2. Koloid, contoh:
susu dengan air.
2.5 Koloid Dalam Kehidupan
Sehari-hari
Sifat karakteristik kolid yang penting,
yaitu sangat bermanfaat untuk mencampur zat-zat yang tidak dapat saling
melarutkan secara homogen dan bersifat stabil untuk produksi skala besar. Oleh
karena sifat tersebut, sistem koloid menjadi banyak kita jumpai dalam industri
(aplikasi kolid untuk produksi cukup luas). Tetapi selain industri, sistem
koloid juga banyak dapat kita jumpai dsalam kehidupan kita sehari-hari,
contohnya saja di alam, kedokteran, pertanian, dsb;
ü Penggumpalan darah
Darah mengandung sejumlah kolid protein yangbermuatan
negative. Jika terdapat luka kecil, maka luka tersebut dapat doibati dengan
pensil stiptik atau tawas yang mengandung ion-ion Al+3 dan Fe+3, dimana ion-ion
tersebut akan membantu menetralkan muatan-muatan partikel koloid protein
danmembnatu penggumpalan darah.
ü Pembentukan delta di muara sungai
Air sungai mengandung partikel-partikel
koloid pasir dan tanah liat yang bermuatan negatif. Sedangkan air laut
mengandung ion-ion Na+, Mg+2, dan Ca+2 yang bermuatan positif. Ketika air
sungai bertemu di laut, maka ion-ion positif dari air laut akanmenetralkan
muatan pasir dan tanah liat. Sehingga, terjadi koagulasi yang akan membentuk
suatu delta.
ü Pengambilan endapan pengotor
Gas atau udara yang dialirkan ke dalam
suatu proses industri seringkali mangandung zat-zat pengotor berupa
partikel-partikel koloid. Untukmemisahkan pengotor ini, digunakan alat
pengendap elektrostatik yang pelat logamnya yang bermuatan akan digunakan untuk
menarik partikel-partikel koloid.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Dari pembahasan pada pembahasan diatas
dapat disimpulkan hal-hal sebagai berikut.
1. Sistem koloid merupakan suatu bentuk campuran (sistem
dispersi)
dua atau lebih zat yang bersifat homogen namun memiliki ukuran partikel
terdispersi yang cukup besar (1
- 100 nm),
sehingga terkena efek
Tyndall.
Bersifat homogen berarti partikel terdispersi tidak terpengaruh oleh gaya gravitasi atau gaya lain yang dikenakan
kepadanya; sehingga tidak terjadi pengendapan, misalnya. Sifat homogen ini juga
dimiliki olehlarutan, namun tidak dimiliki oleh campuran biasa (suspensi).
2. Jenis
Jenis Koloid, yaitu : Aerosol, Sol, Busa, dan Emulsi.
3. Sifat
Sifat Koloid, yaitu: Efek Tyndall, Gerak Brown,
Adsorpsi, Elektroforesis, Koagulasi Koloid, Koloid Liofil dan Koloid Liofob,
Emulasi, Pemurnian Koloid, Dialisis, Diffusi dan Filtrasi.
4. Ada
dua cara untuk membuat system koloid, yaitu : Cara Kondensasi
dan Cara Dispersi
Daftar Pustaka
www. E-dukasi.net
www.e-smartschool.com
http://sistemkoloid11.blogspot.com/
http://id.wikipedia.org/wiki/Sistem_koloid
Tidak ada komentar:
Posting Komentar